Politik Feodalisme


Politik Feodalisme
Upayakan Memilih secara Cerdas

Oleh: Rahman Alif​

Pilkada Kota  dan Pilgub NTB dalam waktu dekat akan terselenggarakan,ini semacam acara sunatan Massal, Nikah sirih dan usaha mengkultuskan kebudayan, hal ini semacam Hegemoni yang sudah lama ada, giat untuk melawan ini kita mesti nekat. 

Kita coba mendeteksi upaya- upaya ini, dimana peran kekuasaan menggandeng tukar tamban ikrar dan memanfaatkan kejanggalan kultur, dan saya merasa hal ini menjadi pembicaraan tekhnis, namun ada berbagai dalil ingin mengganti sistem ini dengan upaya-upaya lain sebagai alternatif, dan seharusnya kenakatan itu yang mesti di ucapkan sehari-hari, normalnya di ucapkan tapi dihambat oleh hegemoni supaya tidak terucap, sekarang ada upaya untuk nekat menembus hegemoni itu.  dan membuka peluang bagi orang untuk menganalisi. 

Jikalau tidak ada yang berbicara soal Pilkada dan Pilgub, jelas orang tidak akan pernah terlibat dalam agenda-agenda politik dan ikut serta menganalisa perihal politIk, dan ini merupakan poin yang bagus. 

Di berbagai golongan kelompok sosial,  secara sadar paham dan konsen menganalisa kondisi politk di bima, dan saya kira di berbagai literasi, anggapan semacam poin tersebut menjadi pemicu kontak politik yang tidak sehat. kita kembali mengungkap ontologi kebudyaan kita, berbagai peristiwa yang persis terulang dalam setiap momen pemilihan, dimana letak kekuasaan di posisikan sebagai miniatur penting dalam mengawal akibat politik, meradiasi isu-isu atas perlawanan yang berakibat perpecahan, dan pengklaiman, corak ini semakin menguat dan menimbulkan mainstrem berpikir generasi ke generasi. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Selamat Hari Guru



GAJI TINGGI, MUBAZIR

Selamat Hari Guru..!!
Rahman Alif

Beberapa pendiskusian singkat dengan berbagai pendidik (PNS) dan pemilik Yayasan  Pendidikan di kota bima, dalam suatu diskusi lepas saya berkomentar: “Setuju kalau kesejahteraan guru ditingkatkan?, tapi sesungguhnya guru yang ada sekarang ini tidak layak digaji tinggi, karena mereka tidak memiliki kompetensi, otoritas, dan integritas yang tinggi sebagai pendidik.”

Lebih lanjut saya sampaikan, mereka (Guru) itu ibarat skrup-skrup dalam sebuah mesin yang hanya bergerak bila digerakkan oleh tangan-tangan manusia. Otoritas mereka digadaikan kepada pengawas, Kanwil, Kandep, atau yayasan (bagi guru swasta). Akibatnya, para guru tidak pernah merasa gelisah meskipun mutu pendidikan merosot dan buku-buku yang mereka pakai hanya memperbodoh diri sendiri maupun murid dan menjadikan guru hanya sebagai alat penerbit untuk mencari keuntungan atau pejabat yang kolusi.
Ada sebagian yang sepakat dengan pendapat saya (Nalar Kritis), dan ada sebagian lagi yang menentangnya (Reflektifitas). Dalam beberapa karya/diberbagai media dan opini yang saya baca, banyak dari mereka berpendapat bahwa dalam hal gaji tidak pernah menempatkan persoalan gaji yang rendah sebagai persoalan utama para guru sekarang. guru itu sebetulnya memiliki peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan dan sekaligus mengembangkan diri tanpa harus melacurkan profesinya sebagai pendidik (Sebagian), sejauh kreatif dan rajinnya. Tapi justru dua hal inilah yang tidak dimiliki oleh para guru kita. Mereka umumnya tidak pinter, loyo, malas membaca, bergaul dan semau gue, tidak memiliki keinginan untuk tahu terhadap ilmu, tidak ada hasrat untuk mengembangkan diri, tidak memiliki keberanian dan sikap yang jelas, tidak kritis, tidak kreatif, juga tidak memiliki cakrawala dan relasi yang luas, sehingga dengansendirinya sulit memperoleh peluang untuk berkembang, kecuali dengan mengeksploitasi para murid. Inilah persoalan guru yang dari berbagai literasi yang pernah saya baca, dan menurut hemat saya hal inilah yang mendesak untuk ditangani, tapi justru selalu terlewatkan, karena mayoritas terfokus pada gaji yang tinggi.
Dalam tulisan lain saya mengutip “PGRI sajalah yang menyederhanakan persoalan guru itu pada masalah gaji sehingga perjuangan mereka selama masa reformasi hanya terfokus pada kenaikan gaji saja. Perjuangan mereka itu pun sebetulnya lebih dimaksudkan untuk “menebus dosa”, karena selama 32 tahun telah menjadikan guru sebagai alat legitimasi kekuasaan, sehingga keberadaan PGRI tidak membuat guru sejahtera, tapi malah tambah menderita” (Kutipan)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Pendidikan, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani

Pendidikan, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani


Hubungan negara, pemerintahan dan warga negara adalah hal yang saling berkaitan satu sama lain. Dimana suatu pemerintahan yang baik akan selaras dengan terwujudnya warga negara yang baik, dan menjadikan negara tersebut maju. Menjadikan pemerintahan yang baik juga tidak terlepas dari peran individu atau suatu kelompok dalam negara tersebut untuk membentuk suatu negara yang berkeadaban. Sehingga masyarakat sebagai warga negara seharusnya dibekali pengetahuan mengenai kehidupan bernegara tersebut. Dan warga negara dapat membantu mewujudkan negara yang diidam-idamkan tersebut.
Indonesia sebagai negara pun sudah membekali masyarakatnya dengan pengetahuan mengenai kehidupan berkewarganegaraan. Seperti yang kita tahu, pelajaran mengenai kewarganegaraan sudah ada sejak di jenjang sekolah dasar hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Pelajaran tersebut dikenal dengan Pendidikan Kewarganegaraan atau Civic education. Dalam pelajaran tersebut kita sering kali menemukan pembahasan mengenai Pancasila, Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani.
Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Civil society dipercaya oleh masyarakat dunia dapat mewujudkan negara yang di cita-cita kan, menjadi sebuah negara yang berkeadaban. Sehingga ke tiga topik tersebut juga kerap di sangkut pautkan satu sama lain, karena saling berhubungan satu sama lain. Sedangkan di Indonesia tidak hanya demokrasi, hak asasi manusia, dan masyarakat madani saja yang menjadi pembicaraan, tetapi pancasila juga menjadi hal yang dibicarakan untuk mewujudkan Indonesia maju, dan berkeadaban.
Demokrasi yang berasal dari kata demos dan kratos, secara sederhana diartikan bahwa pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sehingga masyarakat, rakyat, atau warga negara sangat berperan aktif dalam demokrasi. Demokrasi juga dipahami sebagai kebebasan berpendapat, atau kebebasan individu. Dan demokrasi juga dipahami sebagai suatu sistem sosial-politik yang paling baik dari banyak sistem dewasa ini oleh masyarakat dunia. Dalam mewujudkan demokrasi syarat yang paling umum dan penting adalah dengan terjaminnya hak-hak manusia, dan kebebasan individu yang bertanggung jawab.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tugas Kuliah (Ichlas M.Pd)



HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN KEKUASAAN PADA MASA PENJAJAHAN DAN KEMERDEKAAN

A.    Pendahuluan
Sejak tahun 60-an Bereday mengemukakan mengenai krisis pendidikan di dunia karena meledaknya tuntutan untuk memperoleh pendidikan dari negara-negara yang baru merdeka. Pengamatan seorang ahli sosiologi dan pendidikan sebelum PD II memaparkan bahwa pendidikan akan merupakan dinamit dalam revolusi kemerdekaan dari negara-negara terjajah.
Dewasa ini pendidikan di negara-negara berkembang mengalami revolusi. Bukan hanya pendidikan merupakan kewajiban dari pemerintah yang diakui sebagai salah satu hak asasi manusia tetapi telah merupakan suatu tuntutan dari setiap negara modern. Kewajiban belajar telah merupakan suatu keputusan bersama umat manusia (education for all) dan tuntutan tersebut bukan hanya merupakan tuntutan formal, tetapi juga tuntutan perubahan yang radikal dari isi dan proses dalam lembaga-lembaga pendidikan formal tersebut.
Di Indonesia perjuangan kemerdekaan yang dimulai oleh kaum terpelajar pada tahun 1908 hingga hadirnya kemerdekaan pada tahun 1945. kita mengenal dengan kepeloporan mahasiswa yang telah merobek-robek kekuatan diktator, baik pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru. Gerakan pembaharuan mahasiswa telah merubah wajah negara dari totaliter menuju demokratis. Dalam bidang pendidikan nonformal kita melihat perubahan wajah dari bentuknya sebagai kursur-kursus yang berdiri sendiri menjadi lembaga-lembaga pelatihan yang diarahkan pada pemenuhan kebutuhan tenaga kerja terampil.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Dialektika Filsafat dalam Tahafut al-Falasifah dan Tahafut al-Tahafut

Diskursus Kalam dan Filsafat dalam Tahafut al-Falasifah dan Tahafut al-Tahafut

“serangan al-Ghazali terhadap dunia keilmuan masa tersebut sehingga memunculkan ketakutan-ketakutan bagi para pelajar untuk mengkaji filsafat”

A.            Muqaddimah
Tahafut al-Falasifah (Inkoherensi Filosof) dan Tahafut al-Tahafut (Inkoherensi orang yang inkoheren) adalah dua karya ini memiliki arti penting dalam pemikiran Islam khususnya Filsafat Islam mengingat bahwa kedua karya ini lahir dari dua tokoh yang sangat berpengaruh di dalam dunia Islam yang mewakili genre masing-masing. Al-Ghazali seorang teolog dan Ibn Rushd seorang filosof dan juga efek dari serangan al-Ghazali terhadap dunia keilmuan masa tersebut sehingga memunculkan ketakutan-ketakutan bagi para pelajar untuk mengkaji filsafat. Al-Ghazali tidak hanya menyerang pandangan filsafat dengan dasar argumentasi akan tetapi menggunakan kata-kata yang sarkastis bahkan  mengkafirkan para filosof yang menurut sebagian pengkaji filsafat terlalu dianggap terlalu berlebihan.
Sulayman al-Dunya menyebut bahwa masa ditulisnya Tahafut al-Falasifah adalah masa-masa kegalauan dan ketidak percayaan al-Ghazali pada banyak disiplin ilmu Islam . Ibn Rushd, 90 tahun kemudian sejak ditulis Tahafut al-Falasifah menulis jawaban dengan judul Tahafut al-Tahafut, sayangnya jawaban ini sedikit terlambat kehadirannya sehingga dianggap tidak mengatasi pengaruh yang telah dihasilkan Tahafut al-Falasifah. Namun demikian kedua karya tersebut menempati ruang tersendiri dalam sejarah pemikiran Islam dan menjadi kajian para peneliti sampai saat ini. Sebelum kita berbicara lebih lanjut tentang karya tersebut ada baiknya sekilas kita mengenal kedua tokoh besar Al-Ghazali dan Ibn Rushd
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Pedidikan dan Kesetaraan Gender (Makalah Tugas Kuliah)



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah mendorong kemajuan di semua bidang kehidupan termasuk kemajuan dalam bidang teknologi informasi, telah membuka kesempatan bagi umat manusia untuk akses terhadap informasi global yang mengakibatkan terjadinya gejala dunia tanpa batas (borderless world). Peristiwa yang terjadi di suatu belahan dunia dapat dengan mudah dan cepat diketahui oleh masyarakat di belahan dunia lainnya, pergerakan dan perkembangan ide di suatu tempat dapat dengan mudah diketahui bahkan diikuti oleh masyarakat di bagian dunia lainnya. Demikian juga dengan masalah kesenjangan gender, hal ini sudah menjadi isu kebijakan yang universal dan telah menjadi suatu gerakan hampir di semua penjuru dunia, di mana dalam merumuskan kebijaksanaan di berbagai negara harus mempertimbangkan aspek kesetaraan gender.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tugas Kuliah




PENDIDIKAN DAN KESETARAB GENDER
Oleh: Muhammad Alifuddin
Dosen Mata Kuliah: Ichlas Hasan, M.Pd




BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Bagi suatu negara, pendidikan merupakan realisasi kebijaksanaan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan yang dicita-citakan. Pendidikan merupakan komponen pokok dalam pembinaan landasan pengembangan sosial budaya. Pendidikan juga sekaligus penegak kemanusiaan yang berperadaban tinggi. Pendidikan tidak bisa lepas dari kehidupan sosial. Artinya, pendidikan untuk kesejahteraan manusia dunia-akhirat sehingga perlu diaplikasikan (QS. 28:77) sebab pendidikan memiliki nilai teologis dan sosiologis sekaligus.
Karenanya, proses belajar mengajar merupakan kebutuhan penting hidup manusia. Hal ini harus dirasakan bersama oleh setiap individu laki-laki dan perempuan tanpa pandang bulu. Karena sama-sama memiliki kemampuan untuk belajar. Semakin lama, setiap aspek kehidupan manusia berkembang, kebutuhannya pun kian beragam. Oleh karena itu, laki-laki dan perempuan harus saling membantu, bekerja sama meniti jalan dan mengatasi masalah kehidupan yang mereka hadapi.
Kesenjangan pada bidang pendidikan dianggap menjadi faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap bidang lain di Indonesia, hampir semua sektor, seperti lapangan pekerjaan, jabatan, peran dimasyarakat sampai pada masalah menyuarakan pendapat antara laki-laki dan perempuan yang menjadi faktor penyebab bias gender adalah karena faktor kesenjangan pendidikan yang belum setara selain masalah-masalah klasik yang cenderung menjustifikasi ketidakadilan seperti intepretasi teks-teks keagamaan yang tekstual dan kendala sosial budaya lainnya. Bahkan proses dan institusi pendidikan dipandang berperan besar dalam mensosialisasikan dan melestarikan nilai-nilai dan cara pandang yang mendasari munculnya berbagai ketimpangan gender dalam masyarakat.
Dalam dekade terakhir ini, upaya penyadaran gender menjadi perbincangan serius di kalangan aktivis perempuan, keluarga-keluarga, wartawan, dunia pendidikan maupun kalangan politisi. Begitupun strategi-strategi telah ditawarkan dengan tujuan agar kesetaraan gender tercapai terutama dalam pendidikan yang dianggap dimensi kunci. Dari sinilah kami akan mencoba memberikan sedikit penjelasan mengenai kesetaraan gender dalam bidang pendidikan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian gender?
2.      Bagaimana bias gender dalam pendidikan?
3.      Bagaimana kesetaraan gender dalam pendidikan?
4.      Bagaimanakah upaya penanggulangan dampak negatif dari bias gender pendidikan dalam islam?

C.    Tujuan Penulisan
Dengan adanya penulisan makalah pendidikan dan kesetaraan gender ini diharapkan mahasiswa sebagai calon pendidik dan anggota masyarakat mampu menganalisis tentang kesetaraan gender dalam perspektif pendidikan, sehingga mempunyai wawasan yang luas dan menambah peran aktif dalam menciptakan pendidikan dengan setara bagi semua orang yang terlibat di dalamnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

IMM dengan SEJUTA POLEMIK



IMM dengan SEJUTA POLEMIK
Penulis: Muh. Alifuddin

Saya menceritakan suatu keadaan yang menurut saya hanya sebuah prasangka yang tidak mungkin saya dapat membuktikannya sebagaimana dalil teman-teman yang kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah Bima yakni salah satu prasyarat suatu tindakan adanya apabila ia memiliki alat bukti atau fakta empiris. Anggap saja ini adalah sebuah dongen, pengalaman pribadai saya yang bukan juga merusak citra organisasi, yang kemudian apabila ada kesamaan nama, tempat dan lain-lain hanyalah sebuah kebetulan dan saya rasa ada keterkaitannya dengan emosional anda tentang sesuatu yang saya uraikan nantinya. Untuk mengingatkan kita saja, dan saya ingatkan kepada anda yang luar bisa dengan sejuta pengalaman yang fantastik, bahwa ajaran idiologi memang haruslah “fanatisme” sebab tanpa yang satu ini mungkin IMM mati terkubur dengan kehampaan, akan tetapi kita memiliki ini yang membuat proses kaderisasi terus berjalan, kepentingan organisasi terus di programkan bahkan sejuta polemikpun kan tetap ada dan itu sesuatu hal yang lumrah bagi saya dan kita semua dalam menjalankan gerakan Dakwah dalam ikatan” 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

MAKRIFAT JAWA

PUNCAK MAKRIFAT JAWA
Bersahabat dengan Reribed (Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram)

Pengetahuan atau ilmu merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia sebagaimana makanan dan minuman atau udara dalam melangsungkan hidup dan kehidupan. Secara substansial, pengetahuan manusia sesungguhnya tidak terbatas. Karena pada saat manusia tidak mengetahui sekalipun, ternyata manusia masih bisa mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. Karena sifatnya yang tak terbatas itu, maka pengetahuan sesungguhnya tidak bisa dibatasi oleh apa dan siapa pun. Dalam hal ini pengetahuan tidak bisa dibatasi oleh ideologi, filsafat, moralitas, bahkan agama sekalipun.

Maka perlu ditegaskan kepada sidang pembaca, bahwa pengetahuan yang dibahas dalam buku ini sama sekali bukan pengetahuan agama, mistisisme, aliran filsafat, aliran kepercayaan, dan bukan pula budi pekerti atau etika yang menganjurkan dan melarang tingkah laku tertentu. Pengetahuan yang didedah dalam buku ini lebih merupakan hasil dari memahami dan mengalami sesuatu yang benar-benar telah diketahui.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Filsafat Hikmah dan Agama Masa Depan

Ditulis Oleh Muh. Alifuddin

Sebelum berbicara tentang hikmah muta’aliyah (selanjutnya kita sebut sebagai filsafat hikmah), saya perlu mengemukakan sejumlah pendahuluan berikut. Pertama, manusia adalah makhluk yang secara intrinsik (fitriah) mencari kesempurnaan. Fitrah ini mendorong manusia untuk terus-menerus berevolusi dan menyempurna. Kedua, dalam mencari kesempurnaan ini manusia akan mengandalkan pelbagai daya yang telah dimilikinya. Ketiga, pengetahuan dalam pengertian luas adalah kriteria untuk mengukur tingkat evolusi dan kesempurnaan manusia. Keempat, setidaknya ada enam kategori pengetahuan manusia:
a. Pengetahuan hudhuri/badihi (fitrah);
b.Pengetahuan rasional (akal);
c. Pengetahuan indrawi (panca indra);
d. Pengetahuan mistis/emosional (hati);
e. Pengetahuan imajiner (imajinasi);
f. Pengetahuan keagamaan (wahyu/teks suci).

Kelima, pengetahuan hudhuri merupakan pijakan dasar bagi seluruh tindak pengetahuan manusia. Untuk jenis pengetahuan ini, manusia hanya perlu untuk menyadarinya secara langsung dan introspektif. Dalam pengetahuan ini tidak ada jarak antara subjek dan objek, ranah ontologis dan epistemologis melebur jadi satu.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Islam Indonesia

FAKTA SEJARAH NII

Mengungkapkan sejarah perjuangan Darul Islam di Indonesia, sama pentingnya dengan mengungkapkan kebenaran. Sebab perjalanan sejarah gerakan ini telah banyak dimanipulasi, bahkan berusaha ditutup-tutupi oleh penguasa. Rezim orde lama dan kemudian orde baru, mengalami sukses besar dalam membohongi serta menyesatkan kaum muslimin khususnya, dan bangsa Indonesia umumnya dalam memahami sejarah masa lalu negeri ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

SEJARAH ISLAM

FAKTA SEJARAH ISLAM YANG DISEMBUNYIKAN NEGARA BARAT


Sejarah adalah peristiwa yang sudah terjadi, namun baru ditulis kemudian, jauh setelah kejadian sebenarnya berlalu. Sebagai cerita masa lalu sejarah mudah untuk dimanipulasi, dan disampaikan kepada generasi berikutnya yang hanya bisa menerima mentah-mentah informasi itu sebagai kebenaran.
Informasi mengenai penemuan-penemuan sains dan teknologi yang pernah kita terima kebanyakan berasal dari buku-buku pengetahuan Barat. Penemu-penemu yang disebut sebagai yang pertama di dunia itu pun dipuji sebagai orang yang berjasa kepada ilmu pengetahuan dan umat manusia.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

TEORI EMANASI AL FARABI


TEORI  EMANASI  AL FARABI
Muhammad ibn Muhammad ibn Tharhkan ibn Uzlagh Al Farabi merupakan filosof Islam pertama yang sangat sistematis dalam membangun dasar-dasar Neoplatonisme.[1] Berdasarkan tentang salah satu teori yang dimilikinya yaitu tentang teori emanasi. Teori emanasi (pemancaran) Al Farabi ini titik pusatnya adalah hubungan Ilahi dan hubungan kausalnya dengan alam duniawi dan menjadi doktrin dua karya utama neoplatonik.[2] Teori ini menempati bagian penting dalam filsafat muslim. Teori ini menerangkan dua dunia, yaitu langit dan bumi dan menafsirkan gejala gerakan dua perubahan, serta merupakan dasar fisika dan astronomi. Selain itu, teori ini juga membahas tentang keluarnya sesuatu wujud yang mumkin (alam makhluk) dari zat yang mesti adanya, yaitu Tuhan (Zat yang wajibul wujud). Bidang utama pemecahannya masalah Yang Esa (Satu) dan yang banyak (plural), dan pembandingan antara yang tetap dan yang berubah. Menurut Al Farabi Yang Esa adalah Tuhan, Ada dengan sendiri-Nya dan tidak memerlukan yang lain bagi ada-Nya atau keperluan-Nya. Mampu mengetahui diri-Nya Sendiri, sangat unik, tidak ada yang sama dengan-Nya, dan tidak memiliki perlawanan atau persamaan.[3]
Teori ini sebenarnya terdapat pula dalam paham Neo-Platonisme. Perbedaan antara keduanya terletak pada uraian Al Farabi yang ilmiah. Menurut teori emanasi dari Al Farabi disebutkan bahwa Tuhan itu Esa. Karena itu yang keluar daripada-Nya juga satu wujud saja, sebab emanasi itu timbul karena pengetahuan (ilmu) Tuhan terhadap zat-Nya yang satu.[4] Al Farabi berpendapat bahwa dari Yang Esalah memancar yang lain. Wujud pertama yang keluar dari Tuhan disebut Akal Pertama, yang mengandung dua segi. Pertama segi hakikatnya sendiri (tabi’at, wahiyya) yaitu wujud yang mumkin. Kedua segi lain, yaitu wujudnya yang nyata dan yang terjadi karena adanya Tuhan sebagai zat yang menjadikannya. Jadi, sekalipun akal pertama tersebut satu (tunggal), namun pada dirinya terdapat bagian-bagian yaitu adanya dua segi tersebut yang menjadi obyek pemikirannya. Dengan adanya segi-segi ini, maka dapat dibenarkan adanya bilangan pada alam sejak dari Akal Pertama.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Teori Emanasi (Filsafat Islam)

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Akal merupakan salah satu anugerah Allah SWT yang paling istimewa bagi manusia. Sudah sifat bagi akal manusia yang selalu ingin tahu terhadap segala sesuatu termasuk dirinya sendiri. Pengetahuan yang dimiliki manusia bukan dibawa sejak lahir karena manusia ketika dilahirkan belum mengetahui apa-apa.[1]
Dengan demikian akal menjadi bagian yang sangat penting dalam diri manusia, bahkan tanpa akal manusia tidak ubahnya seperti binatang. Dalam filsafat, penggunaan akal menjadi ciri khas yang menunjukkan aktivitas pemikiran yang dilakukan. Di dunia ini, banyak sekali filosof-filosof yang menuangkan pemikirannya kedalam bentuk tulisan maupun ucapan dari hasil pengalamannya maupun aktivitas berpikir mendalam yang dilakukannya.
Tidak hanya barat, Islam pun memiliki para filosof handal yang memiliki kualitas berpikir yang luar biasa. Namun, seorang muslim yang memperdalam filsafat tidak boleh terlepas dari aturan syari`at yaitu ketentuan Al-Qur`an dan Al-Hadits. Hal ini dimaksudkan agar apa yang nanti akan dituangkan dari hasil filsafatnya tersebut tidak menyesatkan umat Islam lainnya, karena tentunya para filosof tersebut mendapat perhatian yang lebih bahkan hasil pemikiran mereka dipelajari oleh umat selanjutnya.
Salah satu kajian filsafat yang terkenal adalah tentang teori emanasi, yang mengatakan bahwa penciptaan alam ini merupakan pancaran dari Yang Satu. Banyak filosof yang memberikan pandangannya mengenai filsafat ini, mengingat jika diperhatikan sekilas teori emanasi sangatlah membingungkan bahkan bagi yang mendalami tetapi belum begitu dalam tetap akan terasa bingung, karena memang begitulah filsafat. Oleh karenanya, sangat perlu sekiranya dalam perkuliahan Filsafat Islam juga dibahas mengenai teori emanasi ini. Agar cakrawala berpikir dan pengetahuan kita menjadi luas.
2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diambil rumusan masalahnya sebagai berikut.
a.       Apa yang dimaksud dengan teori emanasi?
b.      Bagaimana teori emanasi menurut Plotinus?
c.       Bagaimana teori emanasi menurut para filosof muslim? 
3.      Tujuan
Adapun tujuannya, yaitu:
a.       Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan teori emanasi,
b.      Untuk mengetahui tentang teori emanasi menurut Plotinus, dan
c.       Untuk memperoleh data teori emanasi menurut para filosof muslim.
  
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Teori Emanasi
Dalam penciptaan alam semesta banyak para ahli berbeda pandangan, perbedaan pandangan itu terletak pada dua persoalan yakni apakah alam ini ada karena memang sudah ada? ataukah ada karena ada yang menciptakan?. Apabila ada yang menciptakan bagaimanakah proses penciptaannya itu?, tentu ini menjadi hal yang menarik dikalangan para pemikir filsafat, sebab hal ini menjadi satu soal yang harus dikaji kebenarannya.
Banyak para filosof barat yang memberikan pandangannya mengenai penciptaan alam semesta ini, hingga muncul-lah beberapa teori salah satunya yang paling menarik dan terkenal dalam dunia filsafat adalah teori emanasi. Teori ini, menarik banyak perhatian para filosof muslim, karena konsep sederhananya tidaklah menyimpang dari ajaran Islam meskipun argumennya sangat sulit dipahami bagi manusia awam.
Kata emanasi, dalam bahasa Inggris disebut emanation yang berarti proses munculnya sesuatu dari pemancaran, bahwa yang dipancarkan substansinya sama dengan yang memancarkan. Sedangkan dalam filsafat, emanasi adalah proses terjadinya wujud yang beraneka ragam, baik langsung atau tidak langsung, bersifat jiwa atau materi, berasal dari wujud yang menjadi sumber dari segala sesuatu yakni Tuhan, yang menjadi sebab dari segala yang ada, karenanya setiap wujud ini merupakan bagian dari Tuhan.[2]
Jadi, dalam teori ini, ditegaskan bahwa Allah sebagai Tuhan memberikan pancaran, sehingga terwujudlah alam ini sebagai hasil dari pancaran tersebut. Dan itu terjadi dengan beberapa proses.
B.     Teori Emanasi Menurut Plotinus
Plotinus dilahirkan pada tahun 204 M di Mesir, di daerah Licopolis. Pada tahun 232 M ia pergi ke Alexandria untuk belajar filsafat, kepada seorang guru bernama Animonius Saccas selama 11 tahun. Pada tahun 243 M ia mengikuti Raja Gordianus III berperang melawan Persia. Ia ingin menggunakan kesempatan itu untuk mempelajari kebudayaan Parsi dan India. Akan tetapi, sebelum sempat mempelajarinya, Raja Gordianus terbunuh pada tahun 244 M. Plotinus dengan susah payah dapat melarikan ke Antioch. Kemudian, pada tahun 270 M Plotinus meninggal di Minturnae, Campania, Italia.[3]
Plotinus merupakan salah satu filosof barat yang filsafat memiliki pengaruh kepada para filosof muslim. Diantara filsafatnya, satu diantaranya adalah tentang penciptaan. Plotinus berpendapat bahwa Yang Esa adalah Yang Paling Awal, sebab pertama. Dari sinilah mulai teori penciptaan yang terkenal yaitu teori emanasi, suatu teori penciptaan yang belum pernah diajukan oleh para filosof lain. Tujuan utama teori ini adalah untuk menjelaskan bahwa yang banyak (makhluk) ini tidak menimbulkan pengertian bahwa didalam Yang Esa ada pengertian yang banyak. Maksudnya, teori emanasi tidak menimbulkan pengertian bahwa Tuhan itu sebanyak makhluk.
Menurut Plotinus, alam semesta ini diciptakan melalui proses emanasi. Emanasi itu berlangsung tidak didalam waktu. Emanasi itu laksana cahaya yang beremanasi dari matahari. Dengan beremanasi itu The One tidak mengalami perubahan. Untuk memahami emanasi itu ada baiknya diikuti uraian Hatta sebagai berikut “Yang Esa itu adalah semuanya, tetapi tidak mengandung didalamnya satupun dari barang yang banyak (makhluk) dasar yang banyak tidak mungkin yang banyak itu sendiri, dasar yang banyak adalah Yang Esa.
Didalam Yang Esa itu yang banyak itu belum ada, sebab didalam-Nya yang banyak itu tidak ada, tetapi yang banyak itu datang dari Dia. Karena Yang Esa itu sempurna, tidak memerlukan apa-apa, tidak memiliki apa-apa, maka beremanasilah dari Dia yang banyak itu. Dalam filsafat klasik Yang Asal itu dikatakan sebagai Yang Bekerja atau sebagai Penggerak Pertama. Disitu selalu dikemukakan dua hal yang bertentangan, seperti yang bekerja dan yang dikerjakan, idea dan benda, pencipta dan ciptaan.
Penggerak Pertama itu berada didalam alam nyata, sifatnya transedens. Pada Plotinus terdapat pandangan yang lain, paham ini berasal dari filsafat Timur. Padanya tidak ada yang bertentangan. Padanya alam ini terjadi dari Yang Melimpah, yang mengalir itu tetap menjadi bagian dari Yang Melimpah itu. Bukan Tuhan berada didalam alam, melainkan alam berada didalam Tuhan. Hubungannya sama dengan hubungan benda dengan bayangannya. Makin jauh yang mengalir itu dari Yang Asal, makin tidak sempurna ia. Alam ini bayangan Yang Asal, tetapi tidak sempurna, tidak lengkap, tidak cukup, tidak sama dengan Yang Asal. Kesempurnaan bayangan itu bertingkat menurut jaraknya dari yang Asal. Sama dengan cahaya, semakin jauh dari sumber cahaya, semakin kurang terangnya, akhirnya ujung cahaya akan lenyap dalam kegelapan.[4]
 Perlu dicatat bahwa emanasi itu terjadi tidak didalam ruang dan waktu. Ruang dan waktu terletak pada tingkat yang paling bawah dalam proses emanasi. Ruang dan waktu adalah suatu pengertian tentang dunia benda. Untuk menjaadikan alam, Soul mula-mula menghamparkan sebagian dari kekelannya, lalu membungkusnya dengan waktu. Selanjutnya energinya bekerja terus, menyempurnakan alam semesta itu. Waktu berisi kehidupan yang bermacam-macam, waktu bergerak terus sehingga menghasilkan waktu lalu, sekarang dan yang akan datang. 
C.    Teori Emanasi Menurut Para Filosof Muslim
Sebagaimana yang diketahui diawal pembelajaran Filsafat Islam, bahwa pemikiran para filosof Islam sangat dipengaruhi oleh pemikiran para filosof barat (para filosof Yunani). Diantara para filosof Islam yang terkenal dalam pemikirannya mengenai teori emanasi, yaitu:
1.      Al-Farabi
Al-Farabi mempunyai nama lain yaitu Abu Nashr Ibnu Audagh Ibn Thorhan Al-Farabi. Sebenarnya nama Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, tempat beliau dilahirkan yakni di desa Wasij di kota Farab pada tahun 257 H (870 M). kadang-kadang ia mendapat sebutan orang Turki, sebab ayahnya adalah orang Iran yang menikahi wanita Turki. Banyak karya yang telah beliau hasilkan dari proses mencari dan menggali pengetahuannya melalui filsafat.[5]
Mengenai penciptaan alam, Al-Farabi setuju dengan teori emanasi yang menetapkan bahwa alam ini baru, yang merupakan hasil pancaran. Al-Farabi menyebut teori emanasi sebagai Nadhariyatul Faidl,[6]
Sebenarnya, Al-Farabi menemui kesulitan bagaimana terjadinya yang banyak (alam) yang bersifat materi dari Yang Esa (Allah) jauh dari arti materi dan Maha Sempurna. Dalam filsafat Yunani, Tuhan bukanlah pencipta alam, melainkan penggerak pertama (Prime Cause), seperti yang dikemukakan Aristoteles. Sementara dalam Islam, Allah adalah Pencipta, yang menciptakan dari tidak ada menjadi ada (Creito ex Nihilo). Untuk meng-Islamkan doktrin ini, Al-Farabi mencari bantuan pada doktrin Neoplatonis monistik tentang emanasi. Dengan demikian, Tuhan Penggerak Aristoteles bergeser menjadi Allah Pencipta, yang menciptakan sesuatu dari bahan yang sudah ada secara pancaran. Dengan maksud, Allah menciptakan alam semenjak azali, materi alam berasal dari energy yang qadim, sedangkan susunan materi yang menjadi alam adalah baharu. Oleh karenanya, menurut Filosof Muslim, kun Allah yang termaktub dalam Al-Qur`an ditujukkan kepada syai’ (sesuatu) bukan kepada la syai’ (tidak ada sesuatu).[7]
Emanasi dalam pemikiran Al-Farabi adalah Tuhan sebagai akal, berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran itu timbul suatu maujud lain. Tuhan itu adalah wujud pertama dan dengan pemikiran itu timbul wujud kedua yang juga mempunya substansi. Itu disebut dengan Akal Pertama yang tak bersifat materi. Wujud kedua ini berpikir tentang wujud pertama dan dari pemikiran inilah timbul wujud ketiga. Proses ini terus berlangsung hingga pada akal X.[8]
Emanasi melahirkan alam qadim dari segi zaman (taqaddum zamany) bukan dari segi zat (taqaddum zaty). Oleh karena alam dijadikan Allah secara emanasi sejak azali tanpa diselangi oleh waktu, namun ia sebagai hasil ciptaan, berarti ia adalah baru. Berikut adalah tabel emanasi, agar lebih dapat memahami uraian tentang teori emanasi Al-Farabi.[9]
(Subjek) Akal Yang Ke
Sifat
Berpikir Tentang
Keterangan
Allah sebagai Wajib al-Wujud menghasilkan
Dirinya sendiri sebagai mumkin al-Wujud, menghasilkan
I
Mumkin Wujud
Akal II
Langit Pertama
Masing-masing akal mengurusi satu planet
II
sda
Akal III
Bintang-Bintang
III
sda
Akal IV
Saturnus
IV
sda
Akal V
Yupiter
V
sda
Akal VI
Mars
VI
sda
Akal VII
Matahari
VII
sda
Akal VIII
Venus
VIII
sda
Akal IX
Merkuri
IX
sda
Akal X
Bulan
X
sda
Bumi, roh, materi pertama yang menjadi keempat unsur: udara, api, air dan tanah.
Akal ke X tidak lagi memancarkan akal-akal berikutnya, karena kekuatannya sudah lemah.






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Copyright 2009 LOVERS of WISDOM
Free WordPress Themes designed by EZwpthemes
Converted by Theme Craft
Powered by Blogger Templates