CAHAYA TUHAN

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Wahai kekasih Tuhan
Dengan menyebut namamu, rumah mana pun yang kutinggali
Tidak memerlukan lampu


Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) sering bercerita tentang sebuah doa yang dilantunkan oleh Syaikh Abu Yazid al Busthami,qs., : ‘Yaa Allah, saya ingin agar tidak memiliki keinginan’. Bagi kita doa ini aneh, karena manusia pada umumnya terbatas pada dua keadaan, apakah menginginkan sesuatu atau tidak. Tidak pernah menginginkan bukanlah ciri khas manusia, karena itu orang yang mengosongkan keinginan diri, sama artinya ingin berhenti menjadi manusia. Ketika Tuhan ingin menyempurnakan manusia dan mengubahnya menjadi seorang syaikh yang sempurna, Dia akan membuat manusia mampu untuk memasuki keadaan persatuan dalam keesaan. Suatu wilayah dimana tak ada dualitas maupun pemisahan. Artinya bahwa, keinginan Tuhan agar manusia mengikuti dan melaksanakan hal yang benar dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang, telah menjelma menjadi pakaian baginya yang tidak terpisah darinya, sehingga selaras dengan hatinya tanpa adanya pertentangan sama sekali, nah pertentangan itu timbul, manakala keinginan Tuhan berbeda dengan keinginannya. Segala penderitaan muncul karena menginginkan sesuatu yang tidak dapat diperoleh. Ketika berhenti menginginkannya, tidak akan ada lagi penderitaan. Derajat yang demikian adalah hanya dimiliki oleh orang-orang yang melakukan perjuangan dan upaya menuju suatu tempat, dimana mereka berhenti melakukan apa yang diinginkan dan dihasratkan oleh dirinya sendiri, kecuali keinginan Tuhan. Meski demikian, tindakan Tuhan mendahului tindakan manusia untuk menghapus keinginannya, kebenaran telah datang dan kebatilan dikalahkan.

Dikatakan setelah baginda Nabi Muhammad,saw., tidak ada lagi yang akan menerima wahyu. Jika sifat wahyu adalah suatu kebenaran yang datangnya dari Al Haq disampaikan kepada seorang Nabi melalui malaikat Jibril,as., maka sifat yang demikian ini tentunya masih akan ada sampai saat ini dan di kemudian hari, dengan nama yang berbeda tetapi mempunyai makna yang sama, yakni ‘Iham’. Inilah yang dimaksudkan dengan perkataan Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) : ‘Berhati-hatilah dengan firasat orang mukmin, karena dia melihat dengan Cahaya Tuhan.’ Ketika seseorang melihat dengan Cahaya Tuhan, ia mampu melihat segalanya, permulaan dan akhir, yang hadir dan yang gaib. Bagaimana mungkin ada sesuatu yang mampu menutup Cahaya Tuhan? Apabila dapat ditutup, maka itu bukanlah Cahaya Tuhan.

Ketika Sayyidina Usman bin Affan,ra., menjadi khalifah ketiga, beliau menaiki mimbar. Orang-orang menunggu dan memperhatikan apa yang akan dikatakannya, tetapi beliau tetap berdiam dan tidak mengatakan apa-apa. Orang-orang yang tengah terkuasai keadaan kebahagiaan sedemikian rupa, sampai tidak seorang pun mampu pergi atau menyadari sedang di manakah mereka. Tidak pernah ada ribuan kuliah atau ceramah yang mampu menjadikan orang-orang pada keadaan seperti itu. Sampai akhir peristiwa itu, Sayyidna Usman,ra., tetap melihat mereka dalam keheningan. Begitu akan turun dari mimbar, beliau berkata, ‘Lebih baik kalian memiliki pemimpin yang giat daripada yang suka bicara.’ Dan dia berbicara benar, karena apabila berbicara itu bermanfaat bagi pembersihan jiwa, maka orang-orang yang mendengarkan perkataan para da’i akan bersih jiwanya, nyatanya tidak. Oleh karenanya penyampaian rahasia dan perbersihan jiwa itu dapat disampaikan dengan lebih baik tanpa ucapan. Maka, tidak heran jika seseorang berada pada majlis yang dihadiri oleh seorang syaikh, maka lenyaplah segala himpitan didalam dadanya, karena syaikh diam, melihat, mendengar dengan Cahaya Tuhan.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "CAHAYA TUHAN "

Posting Komentar

Copyright 2009 LOVERS of WISDOM
Free WordPress Themes designed by EZwpthemes
Converted by Theme Craft
Powered by Blogger Templates